Jalan Menuju Kemenangan Islam

Jalan Menuju Kemenangan Islam

Kita meyakini bahwa iman dan jihad merupakan jalan untuk menghidupkan umat ini dan merealisasikan cita-cita mereka untuk tegaknya khilafah di muka bumi serta mengokohkan posisi dien.

Jihad bisa berupa penghidmatan diri untuk mempelajari perintah Allah, istiqamah di atasnya, mendakwahkannya, dan berperang di jalan-Nya, dan sabar terhadap musibah yang mungkin menimpanya.

Allah telah menerangkan keutamaan jihad dan sebagai bentuk perdagangan yang menguntungkan dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ () تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ () يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ () وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Shaff: 10-13)

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111)

Dalam hadits disebutkan, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Ya Rasulallah, tunjukkan kepadaku satu amal yang menyamai jihad?’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak mendapatkannya.’ Beliau bersabda lagi, ‘Apakah kamu sanggup, apabila seorang mujahid keluar lalu kamu masuk ke dalam masjidmu kemudian kamu shalat tanpa berhenti dan berpuasa tanpa berbuka?! Ia menjawab, ‘Siapa yang sanggup melakukan itu wahai Rasulallah?!’””

Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya kuda seorang mujahid yang bergerak dengan gesit/cekatan (karena tali lehernya dikendalikan) maka dicatat baginya sebagai kebajikan-kebaikan.” (HR. Al-Bukhari)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik  radliyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ

Tidak seorangpun yang masuk surga menginginkan kembali ke dunia sedangkan dia telah mendapatkan semua kekayaan yang ada di bumi, kecuali seorang syahid. Ia berangan-angan dikembalikan ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali karena dia melihat karamah (mati syahid).” (HR. Bukhari)

Ibnu Baththal berkata, “Hadits ini merupakan yang paling utama mengenai keutamaan jihad. Tidak ada amal kebaikan yang menuntut pengorbanan jiwa raga selain jihad, karena itu pahalanya sangat besar.”

” . . .Tidak ada amal kebaikan yang menuntut pengorbanan jiwa raga selain jihad, karena itu pahalanya sangat besar. .”(Ibnu Baththal)

Adapun motifasi untuk menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh dalam menuntutnya disebutkan oleh hadits Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Dan barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda, “Tidak boleh iri kecuali pada dua hal: (pertama) seorang laki-laki yang Allah karuniakan harta banyak lalu dia habiskan dalam kebenaran dan (kedua) orang yang Allah karuniakan ilmu lalu dia mengamalkanny dan mengajarkannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Abu Darda’ radliyallaahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang memandang pergi dan pulang dari menuntut ilmu bukan jihad, ketahuilah bahwa akal dan pikirannya sudah kurang normal.” Abu Darda’ berkata lagi, “Tidak seorangpun yang pergi ke masjid untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya kecuali dicatat baginya pahala seorang mujahid, ia tidak kembali kecuali dengan membawa ghanimah.”

“Barangsiapa yang memandang pergi dan pulang dari menuntut ilmu bukan jihad, ketahuilah bahwa akal dan pikirannya sudah kurang normal.” Abu Darda’

Sementar hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan adanya jihad nafs (jihad melawan hawa nafsu) dengan mengarahkannya untuk taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla,  “ . . . dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari kesalahan dan dosa. Sedangkan mujahid adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya untuk taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad dari Fudhalah bin Ubaid)

Adapun tentang jihad menyampaikan kebenaran, menerangkannya, dan menegakkan hujjah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar.” (QS. Al-Furqan: 52)

Juga terdapat dalam sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ

berjihadlah terhadap orang-orang musyrik dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.” (HR. Ahmad, al-Nasai, Ibnu Hibban, dan al-Hakim. Dishahihan Al-albani dalam Misyah al-Mashabih no. 3821) Makna sabda Nabi, Alsinatikum mencakup tabligh (menyampaikan) Islam kepada orang-orang kafir, mendakwahi mereka, dan menangkal tuduhan-tuduhan mereka terhadap Islam serta melindungi kaum muslimin dari kebatilan dan propaganda yang mereka tebarkan di tengah-tengah umat.

Jihad dengan lisan mencakup tabligh (menyampaikan) Islam kepada orang-orang kafir, mendakwahi mereka, dan menangkal tuduhan-tuduhan mereka terhadap Islam serta melindungi kaum muslimin dari kebatilan dan propaganda yang mereka tebarkan di tengah-tengah umat.

Adapun jihad dengan pedang dan tombak, maka mayoritas teks tentang jihad menyebutkan hal itu. Sebagian nashnya telah disebutkan di awal. Dan di antara nash-nash tersebut yaitu firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (QS. Al-Taubah: 111)

Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,

لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Sungguh pagi-pagi hari atau sore hari berangkat berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan tentang empat macam jihad telah diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ () إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. ” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Oleh sebab itu Imam al-Syafi’i rahimahullaah, “Kalau Allah tidak menurunkan kepada hamba-Nya kecuali surat ini saja, sungguh telah cukup buat mereka.” Wallahu a’lam

(PurWD/voa-islam.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Blog Stats

    • 1,637 hits
%d blogger menyukai ini: