Harus Ada Niat Untuk Berjihad

Harus Ada Niat Untuk Berjihad

Segala puji bagi Allah yang telah mewajibkan ibadah jihad. Dengannya, Allah menjanjikan bagi mujahidin memperoleh kekuasaan di muka bumi dan kemenangan atas orang-orang kafir. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad. Manusia terbaik. Dia telah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad hingga ajal menjemputnya. Semoga shalawat dan salam juga terlimpah kepada keluarganya, para sahabat, dan umatnya yang berpegang dengan sunnah-sunnahnya.

Zaman kita ini adalah zaman ujian dan fitnah terhadap Islam yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Dunia tanpa terkecuali mengumumkan perang terhadap terorisme, maksudnya terhadap jihad. Dunia menolak terorisme dengan segala bentuknya, namun hanya ditujukan kepada kaum muslimin. Akhirnya Islam dan kaum muslimin menjadi pihak tertuduh.

Di manapun engkau melihat Islam di suatu negeri

Engkau akan dapati, ia laksana burung yang patah kedua sayapnya

Kelompok Islam yang teguh memerangi kesyirikan dan kekufuran berikut para pemeluknya karena kedzaliman mereka, menjadi terget utama. Bangsa-bangsa kafir dan para sekutunya mengerumuni mereka dari berbagai penjuru. Namun, Allah memberikan keteguhan sehingga mereka tetap eksis di atas jalan jihad. Tidak akan membahayakan mereka, baik oleh orang-orang yang menelantarkan mereka dari kalangan umat Islam yang enggan berjihad, penakut, atau tenggelam dalam kehidupan dunia yang hina. Demikian juga, tidak akan membahayakan mereka orang-orang kafir, murtad, dan para pelaku bid’ah sesat yang senantiasa menyelisihi dan menentang jalan mereka. Kelompok itu adalah Thaifah Manshurah, seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

Akan senantiasa ada sekelompok kecil dari umatku yang tampil di atas kebenaran. Tidak akan membawa madharat bagi mereka orang-orang yang menelantarkan mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka sehingga datang urusan Allah . .” (HR. Muslim dan Ahmad). Dan salah satu ciri utama mereka adalah senantiasa berjihad di jalan Allah.

Jihad adalah satu-satunya alternatif bagi umat Islam untuk melawan agresor kaum kafir yang telah menguasai negeri-negeri kaum muslimin pada hari ini. Allah Ta’ala berfirman:


وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS. Al Baqarah: 217)

Di dalam jihad terdapat kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya meninggalkan jihad terdapat kerugian dunia dan akhriat. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ

Katakanlah: ‘tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. . . ” (QS. Al Taubah: 52)

Yaitu, bisa jadi kemenangan dan kekuasaan serta boleh jadi kesyahidan (mati syahid) dan surga. Mujahid yang masih hidup akan meraih kemuliaan di dunia dan memperoleh pahala di dunia dan pahala akhirat. Mujahid yang gugur maka dia masuk surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُعْطَى الشَّهِيدُ سِتَّ خِصَالٍ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهِ يُكَفَّرُ عَنْهُ كُلُّ خَطِيئَةٍ وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَيُزَوَّجُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُؤَمَّنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ

Orang yang mati syahid akan diberikan padanya enam bagian: Dia diampuni semenjak tetesan pertama darahnya, diperlihatkan tempatnya di surga, dikenakan pakaian iman, dinikahkan dengan 72 bidadari surga, dijaga dari fitnah kubur, dan aman dari guncangan akbar (pada hari kiamat).” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan lainnya) dan keutamaan-keutamaan lainnya masih sangat banyak.

Meniatkan diri untuk berjihad

Seorang muslim yang menyadari kondisi zamannya dan memahami janji Allah dalam ibadah jihad akan bertekad memenuhi panggilan jihad kapan saja panggilan itu datang. Ia senantiasa bersiap diri dan berjanji untuk segera berjihad jika diminta berangkat atau diminta pertolongan oleh rekan-rekannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “apabila kalian diminta untuk berangkat maka berangkatlah.” (HR. al Bukhari dalam Shahihnya)

Apabila seseorang telah meniatkan diri berjihad, kemudian tertinggal dari jihad atau tidak mampu berangkat jihad, pasti dia bersedih. Allah telah menceritakan kisah tentang kaum ‘Asy’ariyin –yaitu para sahabat yang tidak mampu membekali diri untuk berangkat jihad–; “Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. Al Taubah: 92)

Termasuk bukti keseriusan nita seseorang untuk berjihad adalah bersedih dan menyesal ketika dia tertinggal dari jihad di jalan Allah, lalu keadaannya seperti yang diungkap dalam sebuah sya’ir:

Tatkala disebutkan perang dan syahadah

Berkobarlah kerinduanku kepada jannah

Tatkala singa Allah meraung di medan perang

Menyalalah kerinduan kepada jihad dengan terang

Aduhai diriku yang berjihad pun tak lagi mampu

Betapa sedih saat ini karena menyesali masa yang telah lalu

Adapun orang yang mengatakan, “Al Hamdulillah, Allah tidak membutuhkan bantuan kita,” ketika tertutup jalan atau tidak bisa berjihad. Maka orang semacam ini tergolong orang yang membenci jihad dan tidak punya tekad berjihad. Orang seperti ini serupa dengan kaum munafikin yang membenci jihad, tidak mau keluar berjihad kecuali karena terpaksa. Kalaupun mereka keluar ke medan jihad, mereka hanya melemahkan semangat jihad kaum muslimin dan berlari ketika bertemu musuh.

Sungguh sangat jauh berbeda antara orang yang menangis dan bersedih tatkala tertinggal jihad dengan orang yang menyembunyikan rasa senang dalam hatinya karena mendapatkan udzur (alasan) untuk tidak berjihad. Allah Mahatahu rahasia di dalam hati. Meniatkan diri untuk berjihad akan melenyapkan penyakit nifak dari diri seseorang.

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ, وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِهِ, مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari kemunafikan.

Imam an Nawawi rahimahullah berkata dalam al Minhaj, “maknanya siapa yang melakukan ini, maka dia mirip dengan orang-orang munafik yang tertinggal dari jihad dalam sifat ini. Sebab meninggalkan jihad adalah satu cabang kemunafikan.” (Al Minhaj: 13/50)

Syaikhul Islam mengatakan dalam al Fatawa, “yang dimaksud dengan nifak kecil adalah nifak dalam amal dan yang serupa, seperti berbohong ketika bicara, ingkar ketika berjanji, berhianat ketika diberi amanat, atau berlebihan ketika bertengkar. Termasuk dalam masalah ini adalah berpaling dari jihad. Sikap ini termasuk karakter orang-orang munafik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia meninggal di atas satu cabang kenifakan.” (HR. Muslim)

Allah menurunkan surat Al Bara-ah (At Taubah) yang juga disebut Al Fadhihah (penyingkap) karena surat ini menyingkap orang-orang munafik. Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radliyallah ‘anhu berkata, “surat al Fadhihah ini turun dengan selalu menyebut ‘dan mereka dan di antara mereka’ hingga para sahabat pun menyangka tidak tersisa seorang pun kecuali disebutkan dalam surat ini.”

Surat al Taubah ini turun di akhir peperangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu perang Tabuk tahun 9 Hijriyah. Pada saat itu Islam mendapatkan kemenangan. Maka, Allah menyingkap keadaan orang-orang munafik dan menyifati mereka sebagai pengecut dan meninggalkan jihad. Allah juga menyifati mereka sebagai orang bakhil dalam berinfak di jalan Allah dan pelit terhadap hartanya. Inilah dua penyakit besar: pengecut dan bakhil. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ

Seburuk-buruk sesuatu yang terdapat pada seseorang adalah kikir lagi suka berkeluh kesah dan pengecut lagi lemah.” (HR Abu Dawud)

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujuraat: 15)

Dalam ayat di atas, Allah membatasi orang mukmin pada orang yang beriman dan berjihad. Sebaliknya, Allah mengabarkan orang yang menjauhi jihad bukan orang beriman. Allah berfirman (artinya); “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.” (QS. Al Taubah: 45)

Allah memberitahukan bahwa orang beriman tidak akan meminta izin meninggalkan jihad. Dan orang-orang yang meminta izin adalah orang yang tidak beriman. Lalu bagaimana dengan orang yang meninggalkan jihad tanpa izin?” (Majmu’ Fatawa: 28/436)

Berhati-hatilah Anda, wahai saudaraku, agar tidak menyerupai orang munafik dan tidak meninggal dunia dengan menyimpan satu cabang dari kenifakan. Adapun orang yang mencela mujahidin dan mencela jihad dengan berbagai cara dan sebutan, seperti tergesa-gesa, tidak bermusyawarah dulu, maka seperti yang diungkapkan dalam sebuah sya’i:

Wahai kalian yang mencela pemuda kami karena jihadnya

Berhentilah mengecam dan mencela

Pantaskah dicela orang yang merindukan surga dan semerbak aromanya

Dia selalu menempuh jalan para penghuninya

Pantaskah dicela orang yang meninggalkan dunia dan permainannya

Dia bergegas menuju medan jihad dengan tekad bebas mulia

Pantaskan dicela orang dibeli Allah jiwanya

Dia berharap surga Firdaus yang kekal tiada fana

Janganlah kalian mencela jihad dan pembelanya

Karena itu tanda kemunafikan, maka hati-hatilah dan waspada

Siapa yang belum pernah meniatkan diri untuk berjihad atau juga

Belum pernah berjihad lalu meninggal dunia, maka dia meninggal dunia secara buruk lagi hina

Sesungguhnya jihad adalah jalan kemuliaan kita

Meninggalkannya menjadikan hidup kita hina dan menderita

Oleh: Purnomo

(PurWD/voa-islam.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Blog Stats

    • 1,637 hits
%d blogger menyukai ini: