Demo: Sarana Menghidupkan Sunnah & Merealisasikan Tujuan Syariah

Demo: Sarana Menghidupkan Sunnah & Merealisasikan Tujuan Syariah

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjelaskan petunjuk kepada umat manusia melalui ayat-ayat Qur’an dan sunnah Nabi-Nya dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah yang memperjuangkan kebenaran, menolongnya dan terus menyeru umatnya untuk memperjuangkan Dienullah hingga hari kiamat, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.

Menyampaikan kebenaran merupakan kewajiban bagi umat muslim, khususnya pada zaman sekarang ini, dimana kejahatan dan kezaliman begitu luar biasa. Sedangkan umat yang jumlahnya besar ini dalam posisi yang tertindas dan lemah secara politik. Akibatnya, sendirian memaklumatkan kebenaran beresiko tinggi dan kurang mengena. Sehingga perlunya kerja kolektif dan aksi masa untuk menyuarakannya, seperti mudhaharah, show of force, ataupun menyampaikan tuntutan secara bersama.

Sebenarnya dalam syariat Islam kita (umat Islam) sudah dibimbing untuk melakukan mobilisasi masa, seperti dalam shalat Ied. Pada ibadah tahunan tersebut, umat Islam disunnahkan untuk keluar dan berkumpul di tempat terbuka. Bukan saja bagi yang disyariatkan shalat, orang-orang yang tidak wajib atau tidak disunnahkan shalat juga diperintahkan untuk ikut keluar supaya memperbanyak jumlah umat Islam. Di samping sebagai syi’ar ke-Islaman, juga sarana merayakan kesenangan mereka. Maka kenapa kita (umat Islam) tidak bersatu bersama saudara-saudara seiman untuk menyampaikan kebenaran dan menolak segala bentuk kezaliman, khususnya yang berkaitan dengan ajaran dien kita seperti aksi masa untuk menuntut pembubaran Ahmadiyah yang mengacak-acak dan membajak ajaran Islam.

Kalau semua umat Islam Indonesia ini bersatu padu menyuarakan pembubaran Ahmadiyah, maka kekuatan tuntutan akan lebih besar. Dan pastinya, suara tersebut akan lebih diperhitungkan. Nilai preseur bagi pemerintah ini tentu lebih kuat, sehingga harapan umat agar kelompok yang menista kesucian ajaran Islam ditindak tegas dan dilarang dapat terealisir.

Perlu diakui, bahwa umat Islam dalam kondisi yang lemah. Tidak ada kekuatan politik, militer dan persenjataan untuk melindungi ajaran Islam. Karena memang kepentingan negara ini bukan untuk menegakkan Islam. Namun kita masih punya leher, tubuh dan lisan untuk menyatakan penolakan terhadap ketidakadilan dan menodaan terhadap Islam. Maka inilah usaha minimal yang bisa kita perbuat.

Sungguh tidak pantas di saat umat tidak menguasai persenjataan, ekonomi, pemerintahan, dan tokoh-tokoh yang bisa membela kehormatan Islam dan kaum muslimin, dan tidak tersisa kecuali suara dan tuntutan, lalu mereka tidak juga melakukan. Sungguh aneh dalam kondisi seperti ini ada sebagian umat yang menyerukan bakhil terhadap suara dan melarang umat menuntut hak mereka dengan aksi masa.

Sungguh aneh sekali, di zaman penuh kebodohan dan kelaliman ini, ada sebagian kelompok umat Islam yang menunggu fatwa dari pemimpin zalim agar diizinkan mengingkari perbuatannya dan menunggu izin musuh untuk menolak segala kejahatannya.

Sungguh aneh sekali, di zaman penuh kebodohan dan kelaliman ini, ada sebagian kelompok umat Islam yang menunggu fatwa dari pemimpin zalim agar diizinkan mengingkari perbuatannya dan menunggu izin musuh untuk menolak segala kejahatannya. Padahal aksi masa merupakan bagian dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, disepakati akal sehat, dan menjadi tradisi para ulama salaf. Sehingga mereka hanya bisa berteriak di kelompok pengajiannya tentang kesesatan Ahmadiyah dankekurangajarannya, setelah itu mereka kembali ke rumahnya dan duduk bersama anak istrinya. Di mana bentuk pengingkaran mereka terhadap kesesatan? Di mana bentuk kecemburuan mereka terhadap dien mereka yang sudah diobok-obok dan dibajak?

Berikut ini kami terangkan beberapa penjelasan untuk meluruskan paham orang yang menolak aksi masa dalam menyuarakan kebenaran dan menuntut dihinakannya kebatilan, salah satunya pembubaran dan pelarangan kegiatan Ahmadiyah di negeri mayoritas muslim ini.

Di saat suara tidak didengar kecuali bila didengungkan bersama-sama, maka menyuarakan kebenaran juga harus dilakukan serempak. Keluar bersama-sama untuk menunjukkan banyaknya masyarakat yang menuntut dan besarnya jumlah yang bersuara sangat dibutuhkan. Menurut Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, aksi masa (mudhaharah/demo) pernah dijadikan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sarana untuk memperjuangkan Islam dan mendakwahkannya. Seperti yang diriwayatkan, kaum muslimin sesudah masuk Islamnya Umarradhiyallahu ‘anhu, mereka keluar dengan perintah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam dalam dua barisan (untuk menunjukkan kekuatan). Salah satunya diketuai oleh Hamzah, dan di barisan satunya lagi diketuai Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Saat itu mereka sangat percaya diri sehingga mereka masuk masjid.

Telah diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, di dalamnya disebutkan: Bahwa Umar bin Khathab pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasululullah, bukankah kita ini berada di atas kebenaran walaupun kita mati atau tetap hidup? Beliau menjawab, “Benar, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian berada di atas kebenaran walau kalian mati atau hidup.” Lalu Ibnu Abbas berkata, “Lalu kenapa kita harus sembunyi-sembunyi? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, engkau harus keluar.” Lalu beliau memerintahkan kita keluar dalam dua barisan: Hamzah di salah satunya, sedangkan aku berada di barisan yang lain sehingga kami masuk masjid.” Lalu Umar menuturkan, babwa saat itu, kaum Quraisy tertimpa depresi (ketakutan) yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Sejak saat itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggelari Umar dengan al-Faruq. Karena dengan melalui beliau, Allah memisahkan antara yang hak dan yang batil. (Lihat: Hilyah al-Auliya’: 1/40, al-Ishabah: 2/512, Fathul Baari: 7/59)

Sebenarnya, bukti yang menguatkan absahnya aksi masa dalam menyuarakan kebenaran untuk keagungan Islam telah ditunjukkan oleh syi’ar dan syariatnya. Salah satunya shalat berjama’ah, shalat Jum’at, dan shalat dua hari raya. Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada para wanita haid dan dalam pingitan untuk tetap menghadiri tempat shalat Ied dengan tujuan, “Agar mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah (khutbah) kaum muslimin.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, no. 1136) Kebaikan yang disaksikan di sini adalah banyaknya kaum muslimin dan menampakkan syi’ar keislaman.

Sesungguhnya keterangan-keterangan di atas mengarah pada satu tujuan, yaitu menampakkan ‘izzah (kemuliaan) Islam dan memperbanyak jumlah kaum muslimin. Dan bab ini bagian dari dakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sesungguhnya perkumpulan besar kaum muslimin di satu tempat, seperti shalat berjama’ah, shalat Jum’at, shalat ‘Ied untuk menunjukkan banyaknya orang yang memperoleh petunjuk dan besarnya jumlah kaum muslimin. Sunnah ini juga berlaku dalam peperangan, banyaknya jumlah personil dan lengkapnya persenjataan militer bisa membuat ciut nyali musuh dan menakut-nakuti musuh-musuh Allah serta bisa meninggikan kemuliaan Islam.

Sesungguhnya kedudukan aksi masa atau protes masa (mudhaharah/demo) adalah bagian dari sarana. Dan asal hukum sarana adalah mubah. Dia mengikuti hukum tujuan/maksud yang ingin direalisasikan, jika itu baik maka hukumnya baik, begitu juga sebaliknya. Dan tujuan aksi bersama yang dilakukan kaum muslimin untuk memperjuangkan kebenaran, menolak kezaliman, menyingkap kedok dan kepentingan penguasa, membuka mata masyarakat, dan meluruskan opini mereka adalah bagian dari kebaikan dan dakwah. Bahkan bagian dari jihad yang paling utama, “Jihad paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan raja atau pemimpin yang lalim.” (HR. Abu Dawud dan lainnya dari Abu Sa’id al-Khudri. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Shahihah, no. 491)

Aksi demonstrasi juga pernah dilakukan seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendapat restu darinya. Pernah ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengadukan tetangganya. Lalu beliau menyuruhnya untuk menaruh perabot rumahnya di jalan. Lalu dilaksanakan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tadi. Maka setiap orang yang melewatinya bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?” Dia menjawab, “Tetanggaku mengganggu/menyakitiku.” Lalu orang yang lewat tadi mendoakan keburukan bagi tetangganya tadi. Kemudian datanglah tetangganya tadi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan kondisinya, maka beliau bersabda, “Sungguh Allah telah melaknatmu sebelum manusia.” Kemudian dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Kemudian datanglah orang yang mengadu tadi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menyuruh untuk mengambil perabotnya. (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Bazzar dengan sanad Hasan)

Musuh-musuh Islam menebarkan syubhat di tengah-tengah masyarakat muslim, bahwa perbuatan tersebut sebagai tindakan haram, kegiatan para pemberontak, dan tasyabuh terhadap orang kafir.

Jika umat Islam terkena syubhat tersebut, maka padamlah perlawanan kepada kebatilan.

Musuh-musuh Islam menyadari bahwa aksi masa dan mudhaharah bagian dari strategi perang. Bahkan saat sekarang ini menjadi senjata yang paling menentukan. Mereka sangat khawatir akan kebangkitan umat Islam melalui aksi masa. Sehingga mereka menebarkan syubhat di tengah-tengah masyarakat muslim, bahwa perbuatan tersebut sebagai tindakan haram, kegiatan para pemberontak, dan tasyabuh terhadap orang kafir. Jika umat Islam terkena syubhat tersebut, maka padamlah perlawanan kepada kebatilan.

Pada ringkasnya, bahwa aksi bersama untuk menyuarakan kebenaran dan menentang kebatilan merupakan sunnah yang disyariatkan dan senantiasa dibutuhkan. Allah telah menetapkannya sebagai sarana untuk menunjukkan keingkaran terhadap prilaku bejat, jahat dan merusak dalam firman-Nya,

وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Nuur: 2)

Pada ringkasnya, bahwa aksi bersama untuk menyuarakan kebenaran dan menentang kebatilan merupakan sunnah yang disyariatkan dan senantiasa dibutuhkan.

Aksi masa juga disunnahkan untuk merayakan hari raya, menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saat melepas pasukan dan merayakan kehadiran mereka. Aksi masa tersebut bertujuan untuk menunjukkan kekuatan umat Islam sehingga musuh atau pihak-pihak tertentu gentar dan ciut nyali sehingga tidak berani menghinakan Islam dan membea kebatilan. Aksi masa ini telah membuahkan hasilnya, seperti yang diakui Abu Sufyan sebelum memeluk Islam. Saat dia melihat besarnya jumlah umat muslim, maka dia tidak lagi berpikir membuat makar untuk melawan Islam.

Maka jika saat ini umat Islam tidak menunjukkan aksi masa yang menampakkan besarnya jumlah dan persatuan mereka untuk menuntut hak-hak umat muslim, maka apa yang akan tersisa? Maka menampakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan dengan segenap sarana yang ada (mubah) telah dibenarkan oleh beberapa nash yang disebutkan di atas. Bahkan itu bagian dari sunnah yang ditegakkan oleh Islam. Wallahu Ta’ala a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Blog Stats

    • 1,637 hits
%d blogger menyukai ini: