Prof Bambang Pramowo: Dengan Pancasila, Membuat Islam Berkembang?

Jakarta (voa-islam) 31 Mei 2011 – 

Saat berkunjung ke Iran, Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah – Ciputat,  Bambang Pranowo pernah ditanya seorang pejabat Iran, kenapa Indonesia yang mayoritas Islam, tapi dasar negaranya tidak Islam?

Lalu, Bambang menjawab, “Islam mayoritas hanya berada di sebelah Barat Indonesia, dari Sabang sampai Jawa Timur. Sedangkan di bagian timur Indonesia, seperti Bali, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua, Maluku, bahkan Sumatera Tengah, banyak memeluk agama Kristen.

Dikatakan Bambang, Islam tidak dijadikan sebagai dasar negara, justru demi perkembangan Islam itu sendiri. “Dengan  Pancasila, Islam dapat berkembang. Ketika Papua belum menjadi bagian NKRI, hanya 3% saja yang Islam, begitu bergabung dengan NKRI, pemeluk Islam berkembang hingga mencapai lebih dari 30%.”

Bambang memberi contoh, ketika Timor-timur menjadi bagian dari NKRI, ada banyak masjid, tapi begitu lepas dari NKRI, cuma ada satu masjid di  kota Dili. “Nah, kalau kita memaksakan Islam sebagai dasar negara, pasti akan ada Indonesia bagian timur yang lepas, seperti halnya Timor timur. Bukan tidak mungkin, Papua akan menyusul. Karenanya, Pancasilan sebagai dasar negara pancasila, maka semua agama bisa menerima.”

Suatu ketika saat berada di Wamena-Papua, Bambang pernah berbincang dengan seorang ustadz. Suatu ketika ustadz itu pernah didatangi masyarakat Muslim Papua yang baru saja memeluk Islam untuk minta izin mengadakan pesta babi. Ustadz yang bijaksana itu tidak melarang. Tapi ia memberikan satu syarat, sebaiknya babi yang dipotong itu  adalah babi betina. Setelah babi betina habis di kampung itu, maka populasi babi menjadi tidak berkembang. Akhirnya, didatangkanlah kelinci dari Jayapura. Yang berkembang kemudian, bukan lagi babi, tapi kelinci. Sejak itu, umat Islam di Wamena tidak lagi makan babi, melainkan daging kelinci. Bukti, ada Islamisasi di Papua.

Menurut Bambang, kita tidak perlu formalisasi atau kulitnya dengan menjadikan Islam sebagai label sebuah negara. Yang kita dibutuhkan adalah politik garam, bukan politik lipstik. Negara Islam Indonesia (NII) itu sekedar politik lipstick, hanya merah dibibir. NII biar labelnya Islam, tapi  tidak shalat. “Saya pernah bertemu dengan seorang pejabat NII di Garut dalam keadaan tidak berpuasa di bulan suci Ramadhan. Dalihnya, Indonesia baru masuk periode khauf, belum futhuh, sehingga shalat dan puasa dinilainya belum wajib.”

Bambang berpendapat, Indonesia tidak perlu label negara Islam. Yang  penting adalah hakekat Islam. Piagam Madinah adalah contoh yang bisa diterapkan. Kita tidak ingin mencontoh Islam di Pakistan, yang memperlakukan warga negaranya secara tidak adil, bukan hanya non muslim, tapi juga yang muslim. Bangladesh yang memisahkan diri dari Pakistan, bahkan merasa tidak diperlakukan secara adil, karena jabatan dipemerintahan telah dikuasai oleh kelompok Punjab.

“Dengan begitu, walaupun namanya tidak islam, tapi isinya adil dan ihsan, itu lebih bagus,. Daripada Cuma namanya Islam, tapi tidak adil. Tantangan kita sekarang adalah menciptakan Islam yang rahmatan lilalamin. Jika diwujudkan, dipastikan bisa menjadi daya tarik. Sekali lagi, Islam harus dimaknai isinya, bukan mementingkan label atau kulitnya. Karena itu, Islam yang ideal adalah menggarami seluruh aspek kehidupan, bukan hanya lipstick,” papar Bambang.● Desastian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Blog Stats

    • 1,637 hits
%d blogger menyukai ini: